Cerita tentang Sebuah Kapal

Pada suatu hari, di sebuah desa jauh di atas gunung, datang seorang pemuda. Pemuda itu terlihat seperti telah menempuh perjalanan jauh. Dia menemui kepala desa dan berkata bahwa dia membawa berita penting. Kepala desa segera mengumpulkan seluruh penduduk di sebuah lapangan.

“Saudara-saudaraku,” pemuda itu memulai, “Aku datang dari pesisir untuk mengajak kalian semua naik ke sebuah kapal. Kapal itu sangat indah, aku telah melihatnya dengan mata kepalaku sendiri.”

“Pesisir? Kau gila. Perjalanan ke sana memakan waktu berhari-hari,” kata seorang petualang.

“Tidak masalah. Kapal itu terus menerus diperbaiki. Jadi semakin lama perjalanan menuju ke sana, akan membuat kapal itu semakin bagus,” jawab pemuda itu.

Seorang miskin bertanya, “Apakah harga tiketnya mahal? Aku tidak mempunyai uang.”

Si pemuda menjawab, “Tiketnya tidak bisa dibeli dengan uang, tetapi dengan cinta, toleransi, dan sikap saling memaaafkan.”

“Tetapi itu sulit,” kata seorang gadis buruk rupa, ”Tidak akan ada orang yang mencintaiku.”

“Benar,” imbuh seorang nenek tua, “Orang-orang tidak pernah bertoleransi pada tubuhku yang lemah.”

“Apalagi aku,” seorang pencuri berkata malu-malu, “Mana ada yang mau memaafkanku?”

Si pemuda menatap mata ketiganya. “Orang-orang di kapal itu tidak membedakan cantik dan buruk. Mereka juga membantu orang yang tidak mampu. Dan jika kau telah masuk ke sana, kau akan kehilangan keinginan untuk mengambil hak orang lain. Karena semua orang di sana seperti keluarga.”

“Aku punya keluarga di desa lain,” berkata seorang pegembara, “Dapatkah aku mengajaknya?”

Jawab pemuda itu, “Tentu, kita harus mengajak sebanyak mungkin orang ke sana.”

“Mustahil,” seorang Matematikawan berkata dengan tidak percaya, “Seberapa luas kapal ini?”

“Tidak terhingga,” senyum pemuda itu.

Si Matematikawan kembali berkata, “Jika ada hal yang mencapai tak terhingga, seluruh perhitungan Matematika akan kacau.”

Senyum masih di bibir si pemuda, “Kapal ini tidak dapat dijelaskan dengan persamaan atau teorema apapun.”

“Aku belum pernah mendengar kapal seaneh itu,” seorang penyair berkata ingin tahu, “Apa nama kapal itu?”

Si pemuda mengingat-ingat, “Dia memiliki banyak nama. Orang-orang kulit kuning bermata sipit menyebutnya “Tomodachi”. Orang-orang kulit cokelat berambut hitam memberi kapal itu nama “Teman”. Dan kudengar orang-orang kulit putih berambut pirang berkata, “It’s Friend. We’re on a Friend-Ship”.”

~ by emptynuts on July 17, 2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: